Profil Kardono, Sang Pembuat Becak dari Semarang

kardono
Semarang Tiga unit becak kayuh dan satu becak motor terparkir di depan rumah Kardono. Becak-becak tersebut adalah becak yang sudah selesai dibuat dan siap dipakai.

Ya, Kardono adalah pembuat becak di Semarang yang juga menerima jasa servis becak. Dia membuka usaha di rumahnya, di kawasan permukiman padat penduduk di Jl Madukoro 3 nomor 235 Semarang. Dan ternyata, Kardono adalah satu-satunya yang masih menerima jasa servis maupun modifikasi becak di Semarang.

Saat ditemui detikcom, Kardono terlihat sedang sibuk mengelas rangka becak di sebuah ruangan agak gelap yang penuh dengan bagian-bagian kerangka becak di bagian belakang rumahnya. Pria paruh baya tersebut bekerja sendiri untuk memenuhi pesanan para pelanggannya. Meski demikian jika ia mulai merasa lelah, terkadang ada orang yang datang dan bersedia membantu.

"Kerja sendiri, tapi kadang-kadang ada yang bantu pocokan," kata Kardono di rumahnya, Jumat (5/10/2012).

Ia memulai usahanya setelah keluar dari pabrik becak Satu Hati di daerah Mataram, Semarang, sekitar 15 tahun lalu. Kardono keluar semenjak pabrik tersebut mulai jarang memproduksi becak. Ia lantas memilih mendirikan usaha sendiri dan diberi nama 'Dua Hati'.

"Itu nama turunan dari Satu Hati, jadinya Dua Hati," kata Kardono sambil tersenyum.

Di depan rumahnya, terpampang spanduk biru bertuliskan Dua Hati. Rupanya usaha Kardono dimulai sekitar 15 tahun lalu dengan modal seadanya. Mal dan alat untuk membuat rangka becak agar bisa bengkok sesuai keinginan pun dibuatnya sendiri.

"Malnya memang bentuknya nggak karuan, tapi hasil jadinya sama kok kaya buatan pabrik," sambung Kardono.

Dengan kegigihannya, becak buatannya pernah dijual hingga luar negeri. Seingat Kardono, ia pernah mengirim ke Belanda, Amerika, dan Jepang. "Ke Amerika satu kontainer isinya 13 becak, Belanda dua kontainer, dan Jepang cuma dua. Daerah di Indonesia misalnya di Lombok. Mungkin dibuat wisata atau olahraga," sambung pria yang rambutnya mulai putih ini.

Jika ada yang memesan becak, Kardono mematok harga Rp 4 juta per unitnya. Sementara untuk servis becak, ia memberi harga sesuai dengan kerusakan becak. Kardono juga menerima modifikasi becak kayuh menjadi becak motor. Mesin yang digunakan adalah mesin diesel berbahan bakar solar.

"Ini ada yang pesan diubah jadi becak motor pakai mesin diesel," terang Kardono.

"Becak zaman dulu ada penutup bannya, sekarang enggak ada. Tapi kalau pesan di saya bisa," imbuhnya.

Kardono mengaku penghasilan servis becaknya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, dia membuka toko kelontong di depan rumah, bersanding dengan becak yang sedang diservis.

Dengan keuntungan yang tidak terlalu banyak, Kardono sempat menolak tawaran dari Pemkot Semarang untuk membuat sejumlah becak. Ia menolak karena utusan dari pemkot yang datang ke tempatnya menawar dengan harga murah.

"Saya tolak sampai tiga kali. Katanya mereka kekurangan anggaran, padahal sudah saya diskon banyak," tutur Kardono.

Dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki, Kardono mengaku bisa membuat satu becak hanya dalam waktu dua hari. Namun kemampuannya tersebut menurut Kardono belum ada yang bisa mewarisi karena tiga anaknya adalah perempuan.

"Belum ada penerusnya, anak saya semua perempuan," ucapnya.

Kardono saat ini merupakan satu-satunya pembuat dan tukang servis becak yang bertahan di Semarang. Sebab pengusaha pembuat becak yang lebih besar lainnya sudah gulung tikar.

"Biarpun penghasilannya tidak seberapa, tapi mau bagaimana lagi, inilah keahlian saya," tutup Kardono sambil meneruskan mengelas bagian-bagian becak yang masih tercerai berai.

(vit/vit) 
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

0 Response to "Profil Kardono, Sang Pembuat Becak dari Semarang"

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *