Rabu, 01 Oktober 2014

Biografi perjalanan Karir Adian Napitupulu hingga Menjadi Anggota DPR

Dalam acara pelantikan anggota DPR hari ini adian napitupulu tampak bersahaja dengan pakaian sederhana yang diakuinya seharga 80ribu rupiah dan jeans warna hitam. lalu siapakah sebenarnya sosok adian napitupulu ini? Berikut kami rangkum biografi profil dan perjalanan hidup adian napitupulu hingga menjadi anggota DPR di senayan.

Lahirnya Reformasi '98 tak lepas dari peran sentral mahasiswa yang melakukan perlawanan sengit terhadap pemerintahan Orde Baru dengan Soeharto sebagai nahkodanya. Dimulai dengan aksi-aksi kecil di setiap kampus, gerakan mahasiswa akhirnya membesar dan puncaknya adalah pendudukan Gedung MPR/DPR pada 18 Mei 1998. Soeharto sendiri jatuh tiga hari setelah ribuan mahasiswa mengepung gedung wakil rakyat, atau tepat pada 21 Mei 1998.

Jatuhnya Soeharto, ditanggapi beragam oleh aktivis mahasiswa saat itu, sebagian aktivis memilih untuk menerima Habibie sebagai pengganti Soeharto, namun sebagian lagi melihat Habibie bagian dari Orde Baru, sehingga dianggap tidak layak untuk memimpin jalannya Reformasi. Kelompok mahasiswa yang menolak Habibie ini pun terus berupaya melakukan perlawanan dengan aksi-aksi demonstrasi yang mereka gelar. Salah satu kelompok mahasiswa yang paling vokal saat itu adalah Forum Kota atau lebih dikenal dengan sebutan FORKOT.

Tokoh yang cukup fenomenal di organisasi mahasiswa "garis keras" ini adalah Adian Napitupulu, dia adalah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) angkatan 1991. Bersama FORKOT, Adian adalah orang yang menggagas pendudukan Gedung MPR/DPR yang berujung jatuhnya tirani Orde Baru.


Melawan Tirani di Jalanan

Tubuhnya mulai terlihat sedikit menua seiring usianya yang sudah memasuki kepala empat, tapi tidak dengan semangatnya, Adian Napitupulu hingga detik ini masih tercatat sebagai aktivis '98 yang konsisten melakukan perlawanan terhadap rezim yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat dengan parlemenan jalanan sebagai alat perjuangannya.

Ini dilakukan oleh Adian dikala teman-teman seperjuangannya telah menikmati kursi kekuasaan atau berselingkuh dengan penguasa. Sebagai aktivis jalanan di era Orde Baru, Adian kerap kali ditangkap dan dipukuli, tercatat pada tahun 1995 Adian ditangkap karena terlibat dalam demonstrasi soldaritas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam kasus Sri Bintang Pamungkas terkait aksi demonstrasi anti Soeharto di Dressden, Jerman. Saat itu, dia ditangkap dan diintrograsi di Polres Jakarta Pusat.

Tidak berhenti disitu, pada tahun 1996 Adian mendirikan posko Pemuda Mahasiswa Pro Megawati, yang diketahui sebagai satu-satunya posko non PDI yang menggalang dukungan untuk anak pertama Proklamator RI itu. Tidak hanya mahasiswa yang terlibat, saat itu Adian juga melakukan pengorganisiran petani Sawangan dengan tujuan sama, yaitu mendukung Megawati.. Kemarahan Adian terhadap rezim Orde Baru semakin memuncak, ketika dia menyaksikan dan ikut melakukan perlawanan saat aparat keamanan dan pendukung Suryadi melakukan penyerbuan terhadap kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996.

Adian geram dengan tingkah pongah aparat yang memukuli bahkan menembaki rekan-rekannya yang saat itu bertahan di kantor PDI. Tak tinggal diam, pemuda dengan nama asli Adian Yunus Yusak Napitupulu ini akhirnya menggalang perlawanan bersama mahasiswa Fakultas Hukum UKI hingga terlibat bentrok dengan aparat kemanan hampir 10 jam.

Sebagai mahasiswa, Adian sedianya akan menyelesaikan masa kuliahnya pada tahun 1997. Namun, krisis ekonomi menerpa Indonesia dan kemelaratan terjadi dimana-mana. Disaat itulah Adian melihat bahwa rezim Soeharto diujung tanduk, dengan sigap dia bersama teman-teman aktivis lainnya menggelar pertemuan demi pertemuan yang berujung dengan aksi demonstrasi di berbagai kampus. Di tahun ini pula Adian mengagas berdirinya FORKOT sebagai organisasi mahasiswa yang paling lantang meneriakan agar Soeharto mundur dari kekuasaannya. Untuk mencapai tujuan itu, dengan gagah berani dan gaya "nyelenehnya" Adian mengagas ide untuk menduduki Gedung MPR/DPR, meski sempat ditolak oleh aktivis lainnya, ide tersebut akhirnya terwujud dan mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR/DPR pada 18 Mei 1998. Perlawanan terus berlanjut meski Soeharto telah jatuh. Adian dan kelompoknya dengan tegas menolak Habibie sebagai pengganti Soeharto, lantaran masih berbau Orde Baru. Bahkan, pada tahun 1999, Adian menggagas Rembuk Nasional Mahasiswa di Universitas Udayana Bali yang dihadiri mahasiswa dari 60 kota di 27 Propinsi. Pertemuan ini juga untuk menolak Habibie sebagai Presiden.

Rezim telah berganti dari Orde Baru ke Reformasi, namun permasalahan sosial seperti kemiskinan masih saja terjadi, Negara seperti kehilangan arah, Adian melihat Reformasi cenderung gagal sehingga jalannya pemerintahan tidak sesuai yang dicita-citakan Lagi-lagi Adian dengan jiwa aktivisnya hadir untuk melakukan kritik. Saat itu pemerintahan dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) sebagai Wakil Presiden. Adian kembali melakukan kritik terhadap dua pemimpin negeri tersebut, tentunya dengan cara "nyeleneh" dan nyentrik. Dia sempat menurukan foto SBY dan JK yang tergantung di Wisma Antara, saat berlangsungnya diskusi bedah buku Membongkar Kebohongan Politik SBY-JK karya Sri Bintang Pamungkas. Menurut Adian saat itu, apabila forum tidak suka terhadap SBY maka lebih baik mereka turun ke jalanan dan menuntut agar SBY-JK mundur dari jabatannya. Akibat ulahnya ini, Adian kembali berurusan dengan polisi.

Peristiwa demi peristiwa telah terjadi, termasuk pergantian pemegang tampuk kekuasaan di era Reformasi. Sebuah perubahan yang terjadi pada tahun 1998 itu harus dibayar dengan tewas nya mahasiswa yang melakukan demonstrasi, penculikan aktivis serta kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM lainnya. Namun, setelah Refromasi bergulir perbaikan kondisi masyarakat juga tak kunjung datang, dan Reformasi terkesan semakin kehilangan arah. Merasa bertanggung jawab terhadap sejarah, Adian dengan gaya "nekadnya" melakukan aksi mogok makan tunggal pada tahun 2008, atau tepat 10 tahun perjalanan Reformasi. Adian menilai perjalanan Reformasi saat ini hanya ditandai dengan pergantian pemimpin belaka, namun tidak dibarengi dengan langkah dan tindakan kongkrit dari pemerintah untuk melakukan perbaikan terhadap kehidupan masyarakat.

Tidak berhenti di mogok makan, sepanjang pemerintahan SBY, Adian terus melancarkan kritik tajam. Di tahun 2009 Adian bersama beberapa rekan lainnya mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA). Melalui BENDERA ini Adian dan rekan-rekannya sempat membuat heboh dengan mengungkap aliran dana Century ke beberapa pejabat negara, meski pada akhirnya semua nama yang dirilis oleh BENDERA membantah tudingan tersebut. Akibatnya dua aktivis BENDERA harus berurusan dengan polisi dan berlanjut ke persidangan.

Gagasan-gagasan Adian dan cita-citanya untuk merubah Indonesia kearah yang lebih baik seakan tidak pernah hilang. Di tahun 2013, Adian bersama beberapa tokoh lainnya membidani lahirnya Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) , yang mewacanakan pembentukan pemerintahan transisi. Pembentukan MKRI sendiri direspon pemerintah secara berlebihan. Bahkan, MKRI sempat dituding kelompok yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah.

Berjuang Bersama Rakyat, Kisah Dari Marunda Hingga Cibentang

Adian Napitupulu mengenal kerasnya jalanan sejak tahun 1991, saat itu meski berstatus sebagai mahasiswa, dia sempat "nyambi" menjadi buruh di pabrik kayu PT Total Group di Kawasan Industri Marunda, Jakarta Utara dengan gaji Rp 3000/ per hari. Lahir dari keluarga sederhana, Adian merasakan bagaimana penderitaan para buruh saat itu. Tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut, Adian sempat beberapa kali melakukan pengorganisiran buruh untuk melakukan aksi mogok kerja. Salah satu pemicu aksi mogok kerja yang digagas Adian adalah terkait dengan peristiwa kecelakaan kerja yang dialami oleh rekannya. Buruh naas tersebut harus kehilangan dua jari tangannya akibat terpotong gergaji mesin, sementara perusahaan hanya memberikan uang pengganti Rp 15.000. Adian gusar dengan hal itu, akhirnya dia bersama rekan-rekannya sesama buruh melancarkan aksi demonstrasi dan mogok kerja. Akibatnya, Adian ditangkap pada pukul 02.00 dini hari dan di tahan di Polsek Cakung serta harus menjalani berbagai intrrograsi terkait keterlibatannya dalam pengorganisiran demonstrasi buruh. Setelah itu, Adian dipecat secara tidak hormat dari perusahaan tersebut.

Disela-sela kesehariannya sebagai aktivis, pada tahun 1996 Adian sempat membentuk Lembaga Bantuan Hukum Nusantara Jakarta (LBHN). Lembaga ini terlibat aktif dalam pendampingan terhadap korban lintasan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di Desa Cibentang, Parung, Bogor, Jawa Barat. Untuk menuntut hak warga yang sebagian besar petani itu, Adian bersama warga sutet sempat menggelar aksi di kantor PBB di Jakarta pada tahun 1997. Tidak hanya itu, Adian juga sempat mengorganisir ribuan warga korban SUTET untuk melangsungkan aksi demonstrasi di depan Istana Negara pada tahun 2005. Kedatangan warga korban SUTET saat itu adalah untuk mendesak pemerintah melaksanakan Undang-Undang Ketenagalistrikan No.15 tahun 1985 pasal 12. Dalam Undang-Undang tersebut termaktub bahwa seluruh bangunan, tanah dan tanaman yang yang dilintasi jalur SUTET harus dibebaskan. Hingga tahun-tahun berikutnya, Adian masih terlibat aktif dalam pendampingan warga korban SUTET untuk menuntut hak-hak mereka.

Bermodal Ketulusan Menuju Senayan

Adian Napitupulu adalah anak ke empat dari pasangan Ishaq Parluhutan Napitupulu dan Soeparti Esther. Adian kecil lahir lahir di Manado, namun besar di Jakarta, ayah nya meninggal dunia pada saat ia berusia 11 tahun. Ayah nya saat itu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sempat menduduki posisi Kepala Kejaksaan Negeri di Kotamobagu, (Sulawesi Utara), Barabai, (Kalimantan Selatan), Kupang (Nusa Tenggar Timur) dan terkahir sempat menjabat di Kejaksaan Agung RI.

Adian besar dan matang di dunia gerakan mahasiswa, konsistensinya untuk membela kaum tertindas telah dibuktikannya dengan berbagai tindakan kongkrit yang ia lakukan. Adian juga tak pernah menyerah untuk memperjuangkan nasib rakyat demi kehidupan yang lebih layak. Demi cita-citanya itu Adian juga sempat ikut bertarung dalam bursa pencalegan tahun 2009 lalu. Melalui gerbong PDI Perjuangan, Adian menjadi Caleg Nomor Urut 4 Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Barat, yang meliputi Kabupaten Bogor. Sayangnya, Adian gagal terpilih menjadi wakil rakyat saat itu. Meski demikian, ayah dua anak ini tak patah arang, meski dia gagal menjadi anggota DPR RI, Adian tetap konsisten dengan suaranya dengan mengkrititk kebijakan pemerintah yang menyeleweng dari cita-cita pendiri bangsa.

Pada Pemilu tahun 2014 mendatang, Adian kembali ikut bertarung di bursa pencalegan dengan gerbong yang sama yaitu PDI Perjuangan. Pada pencalegan kali ini, Adian mendapat Nomor Urut 2 Dapil V Jawa Barat, meliputi Kabupaten Bogor. Partai pimpinan Megawati Soekarno Putri itu dipilih lantaran memiliki kesamaan ideologi dan garis perjuangan yang sama. Adian akan memperjuangkan mimpi dan harapannya di dalam gedung parlemen, apabila nanti dia terpilih menjadi anggota dewan.
Biografi perjalanan Karir Adian Napitupulu hingga Menjadi Anggota DPR Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown